/ PSIKOLOGI | "KETUM PRINCESS"
RSS
Container Icon

PSIKOLOGI


INTELEGENSI, EMOSIONAL INETELEGENSI, SPIRITUAL INTELEGENSI, DAN PENGUKURAN INTELEGENSI

Tugas Kelompok

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikologi





Disusun Oleh :
Ariantika Eka Puspitasari        1410701033
 Ni wayan Yuli                         1410701017
Mayliana Tari                          1410701023
Indah Pamaiyanti                    1410701025
Supanti                                    1410701027
Dela Anggraina                       1410701029
Risti Miliani                            1410701031





FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN

Jurusan DIII-Keperawatan

UNIVERSITAS PPEMBANGUNAN NASIONAL VETEREAN JAKARTA

2014

KATA PENGANTAR


          Puji dan syukur Penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan petunjuk dan pertolongan serta kekuatan sehingga Penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “INTELEGENSI” ini dengan baik dan tepat waktu. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia. Penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada:
     1.            Rosnalisa Dosen Mata Kuliah Psikologi, atas bimbingannya dan materi yang diberikan.
     2.            Orang Tua, yakni Ayah dan Ibu yang telah memberikan dukungannya baik moril maupun materil.
     3.            Teman-teman serta semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan Makalah ini.

          Penulis menyadari kalau makalah ini masih jauh dari sempurna. Penulis mengharapkan bimbingan baik berupa saran dan kritik yang membangun, guna penyempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi Pembaca.


Jakarta, November 2014

Penulis



DAFTAR ISI


Kata Pengantar........................................................................................................1
Daftar Isi...................................................................................................................2

BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................3
I.1 Latar Belakang........................................................................................3
I.2 Rumusan Masalah...................................................................................4
I.3 Tujuan.....................................................................................................4
I.4 Metode Penulisan....................................................................................4

BAB II PEMBAHASAN........................................................................................
II.1 Intelegensi.................................................................................................5
II.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Intelegensi.......................................6
II.3 Intelegensi dan IQ.....................................................................................6
II.4 Emosional Intelegensi...............................................................................7
II.5 Spiritual Intelegensi..................................................................................9
II.6 Pengukuran Intelegensi...........................................................................10

BAB III PENUTUP
          III.1 Kesimpulan............................................................................................14
          III.2 Saran......................................................................................................15

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................16

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Adapun penulis membuat makalah yang berjudul “INTELEGENSI” adalah sebagai tugas pelengkap mata kuliah Psikologi. Penulis memilih judul tersebut di atas karena Keberhasilan dari suatu proses belajar dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti tingkat kecerdasan atau yang biasa disebut sebagai intelegensi, tingkat kogitif (kemampuan berpikir), dan tingkat penguasaan emosi. Ketiga faktor tersebut saling berkaitan satu sama lain.

Intelegensi atau kecerdasan merupakan suatu kemampuan tertinggi dari jiwa makhluk hidup yang hanya dimiliki oleh manusia. Intelegensi ini diperoleh manusia sejak lahir, dan sejak itu pula potensi intelegensi ini mulai berfungsi mempengaruhi tempo dan kualitas perkembangan individu, dan manakala sudah berkembang, maka fungsinya semakin berarti lagi bagi manusia yaitu akan mempengaruhi kualitas penyesuaian dirinya dengan lingkungannya.

Pada umumnya perbuatan kita sehari-hari disertai oleh perasaan-perasaan tertentu yaitu perasaan senang dan tidak senang. Perasaan senang dan tidak senang yang selalu menyertai perbuatan kita sehari-hari disebut emosi.

Ketiga hal tersebut saling berkaitan dalam menentukan keberhasilan proses belajar. Dalam makalah ini, kami menguraikan beberapa definisi antara Intelegensi, Emosional Intelegensi, Spiritual Intelegensi dan Pengukuran Intelegensi.

I.2 Rumusan Masalah
     Berdasarkan uraian latar belakang masalah tersebut, maka rumusan masalah Makalah ini antara lain.
                             1.            Sebutkan definisi dari Intelegensi?
                             2.            Sebutkan definisi dari Emisional Intelegensi?
                             3.            Sebutkan definisi dari Spiritual Intelegensi?
                             4.            Sebutkan definisi dari Pengukuran Intelegensi?
                             5.            Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi Intelegensi?

I.3 Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk melengkapi tugas mata kuliah Psikologi. Selain itu Penulis menginginkan agar baik penulis maupun pembaca dapat memahami akan untuk mengetahui defenisi dari Intelegensi, yang dimaksud dengan Emosional Intelegensi, yang dimaksud dengan Spiritual Intelegensi, dan apa yang dimaksud dengan Pengukuran Intelegensi.


I.4 Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam pembuatan makalah ini adalah berdaarkan metode daftar pustaka dari beberapa sumber yang dikutip inti-nti masalah.

BAB II
PEMBAHASAN
II.1 Intelegensi
1.     Definisi Intelegensi
Intelegensi merupakan kemampuan atau kecakapan intelektual yang berdaya guna dan berhasil guna untuk menghadapi atau bertindak / berbuat dalam suatu situasi atau dalam menyelesaikan suatu masalah atau tugas. Berikut ini akan dijelaskan apa yang dimaksud dengan intelegensi:
a.     Intelligence is a general capacity of behave in an adaptable and acceptable manner. (David C Edward, General Psychology, 1968).
b.     Intelligence-term used to describe a person’s general abilities in a number of different areas, including both verbal and motor skills (Robert E. Silverman, Psychology, 1971).
c.      Intelligence is a global capacity of the individual to act purposefully, to think rationally and to deal effectively with the environment (Dennis coon, Introduction to Psychology-Exploration and Application, 1977).
Atau dapat disimpulkan bahwa:
a.     Intelegensi merupakan kemampuan umum mental individu yang tampak dalam caranya bertindak / berbuat atau dalam memecahkan masalah atau dalam melaksanakan suatu tugas.
b.     Intelegensi merupakan suatu kemampuan umum individu yang menunjukkan kualitas kecepatan, ketepatan dan keberhasilannya dalam bertindak / berbuat atau memecahkan masalah atau tugas yang dihadapi.
II.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Intelegensi
a.     Pembawaan, ialah kemampuan / potensi yang dibawa sejak lahir. Kematangan, ialah kesiapan suatu fungsi atau potensi untuk dikembangkan.
b.     Pembentukan, ialah segala faktor luar yang akan mempengaruhi perkembangan intelegensi.
c.      Minat, ialah sikap senang terhadap sesuatu hal.
d.     Kebebasan, ialah kondisi psikologi yang dapat mempengaruhi sikap, performance / aktivitas seseorang dalam berbuat / mencapai tujuan dalam mewujudkan dirinya

II.3 Intelegensi dan IQ
IQ adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan IQ (Intelligence Quotient) yang hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan. Atau dengan kata lain, IQ menunjukkan ukuran atau taraf kemampuan intelegensi / kecerdasan seseorang yang ditentukan berdasarkan hasil tes intelegensi. Sedangkan intelegensi merupakan suatu konsep umum tentang kemampuan individu.

Skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan membandingkan umur mental (Mental Age atau MA) dengan umur kronolog (Chronological Age atau CA), skor ini kemudian dikalikan 100 dan dipakai sebagai dasar penghitungan IQ.
MA = Adalah kemampuan lebih yang dimliki individu pada saat itu
CA = Adalah yang seharusnya dimiliki oleh individu pada saat itu
Namun kemudian timbul permasalahan karena MA akan mengalami stograsi dan penurunan pada waktu itu, tetapi CA terus bertambah. Masalah ini kemudian diatasi dengan membandingkan skor seseorang dengan skor orang lain dalam kelompok umur yang sama. Cara ini disebut “perhitungan IQ berdasarkan norma dalam kelompok (Within Group Normal)” dan hasilnya adalah IQ penyimpangan atau deviation IQ.

Dengan cara perhitungan seperti ini, maka oramg yang IQ sama dengan rata-rata kelompok akan memeperoleh nilai 100. Nilai yang lebih tinggi atau lebih rendah dari nilai rata-rata kelompok akan menentukan posisi IQ orang tersebut dalam kelompok umurnya.

II.4 Emosional Intelegensi (Kecerdasan emosional-EQ)
     1.            Pengertian Kecerdasan emosional (quotient, disingkat EQ)
Adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan oranglain di sekitarnya. Dalam hal ini, emosi mengacu pada perasaan terhadap informasi akan suatu hubungan. Sedangkan, kecerdasan (intelijen) mengacu pada kapasitas untuk memberikan alasan yang valid akan suatu hubungan.  Kecerdasan emosional (EQ) belakangan ini dinilai tidak kalah penting dengan kecerdasan intelektual (IQ). Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional dua kali lebih penting daripada kecerdasan intelektual dalam memberikan kontribusi terhadap kesuksesan seseorang.
Menurut Howard Gardner (1983) terdapat lima pokok utama dari kecerdasan emosional seseorang, yakni mampu menyadari dan mengelola emosi diri sendiri, memiliki kepekaan terhadap emosi orang lain, mampu merespon dan bernegosiasi dengan orang lain secara emosional, serta dapat menggunakan emosi sebagai alat untuk memotivasi diri.
Di lain pihak beberapa orang yang IQ-nya tidak tinggi, karena ketekunan dan emosinya yang seimbang, sukses dalam belajar dan bekerja. Orang yang memiliki kecerdasan emosi tinggi akan berupaya menciptakan keseimbangan diri dan lingkungannya, mengusahakan kebahagiaan dari dalam dirinya sendiri, dapat mengubah sesuatu yang buruk menjadi lebih baik, serta mampu bekerja sama dengan orang lain yang mempunyai latar belakang yang beragam. Ini berarti orang yang cerdas secara emosi akan dapat menampilkan kemampuan sosialnya, dengan kata lain kecerdasan emosi seseorang terlihat dari tingkah laku yang ditunjukkannya.

Orang yang ber-IQ tinggi tetapi karena emosinya tidak stabil dan mudah marah seringkali keliru dalam menentukan dan memecahkan persoalan hidup karena tidak dapat berkonsentrasi. Emosinya yang tidak berkembang, tidak terkuasai, sering membuatnya berubah-ubah dalam menghadapi persoalan dan bersikap terhadap orang lain sehingga banyak menimbulkan konflik. Emosi yang kurang terolah juga dengan mudah menyebabkan orang lain itu kadang sangat bersemangat menyetujui sesuatu, tetapi dalam waktu singkat berubah menolaknya, sehingga mengacaukan kerja sama yang disepakati bersama orang lain. Maka, orang itu mengalami kegagalan.




II.5 Spiritual Intelegensi (Kecerdasan Spiritual)
1.     Pengertian Kecerdasan Spiritual
Kecerdasan spiritual adalah istilah yang digunakan oleh beberapa filsuf , psikolog , dan ahli teori perkembangan untuk menunjukkan kesejajaran spiritual dengan IQ (Intelligence Quotient ) dan EQ ( Emotional Quotient ). Danah Zohar menciptakan istilah "kecerdasan spiritual" dan memperkenalkan ide pada tahun 1997 dalam bukunya rewiring Otak Perusahaan.
David B. Raja telah melakukan penelitian tentang kecerdasan spiritual di Trent University di Peterborough, Ontario, Kanada . Raja selanjutnya mengusulkan empat kemampuan atau kapasitas kecerdasan spiritual inti:
1.   Berpikir Kritis eksistensial: Kapasitas untuk secara kritis merenungkan sifat keberadaan, realitas, alam semesta, ruang, waktu, dan eksistensial / masalah metafisik lainnya; juga kapasitas untuk merenungkan isu-isu non-eksistensial dalam kaitannya dengan keberadaan seseorang (misalnya, dari perspektif eksistensial).
2.   Personal Produksi Arti: Kemampuan untuk memperoleh makna pribadi dan tujuan dari semua pengalaman fisik dan mental, termasuk kemampuan untuk membuat dan menguasai tujuan hidup.
3.   Transendental Kesadaran: Kapasitas untuk mengidentifikasi transenden dimensi / pola diri (yaitu, transpersonal atau transenden diri), orang lain, dan dari dunia fisik (misalnya, nonmaterialism) selama keadaan normal kesadaran, disertai dengan kapasitas untuk mengidentifikasi mereka hubungan dengan diri sendiri dan dengan fisik.
4.   Sadar Negara Ekspansi: Kemampuan untuk masuk dan keluar negara kesadaran yang lebih tinggi (misalnya kesadaran murni, kesadaran kosmis, persatuan, kesatuan) dan negara-negara lain dari trans kebijaksanaan sendiri (seperti dalam dalam kontemplasi , meditasi , doa , dan lain-lain).

II.6 Pengukuran Intelegensi
Pada tahun 1904, Alfred Binet dan Theodor Simon, 2 orang psikolog asal Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak yang kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes Binet-Simon. Tes ini kemudian direvisi pada tahun 1911. Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog dari Amerika mengadakan banyak perbaikan dari tes Binet-Simon. Sumbangan utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara mental age dan chronological age. Hasil perbaikan ini disebut Tes Stanford Binet. Indeks seperti ini sebetulnya telah diperkenalkan oleh seorang psikolog Jerman yang bernama William Stern, yang kemudian dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ. Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.
Salah satu reaksi atas tes Binet-Simon atau tes Stanford-Binet adalah bahwa tes itu terlalu umum. Seorang tokoh dalam bidang ini, Charles Sperrman mengemukakan bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (general factor), tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik. Teori ini disebut Teori Faktor (Factor Theory of Intelligence). Alat tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalah WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa, dan WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak. Di samping alat-alat tes di atas, banyak dikembangkan alat tes dengan tujuan yang lebih spesifik, sesuai dengan tujuan dan kultur di mana alat tes tersebut dibuat. Dari hasil pengukuran tes intelegensi, akan diperoleh tingkatan intelegensi, diantaranya tingkat jenius, normal, rendah, dan terbelakang.
1.     Jenius, kemampuan yang luar biasa, dalam ukuran / tingkatan diatas 140
2.     Normal, mempunyai tingkatan ukuran yang rata-rat 100-110, atau yang disebut kecerdasan yang rata-rata
3.     Rendah, kemampuan dibawah rata-rata, tingkat ukurannya antara 70-90
4.     Keterbelakangan
Menurut Konsultasi Psikologi Purposive, Penggunaan tes intelegensi ini dimaksudkan untuk mengukur kemampuan-kemampuan khusus yang dimiliki siswa. Tes ini terdiri dari 9 (sembilan) sub tes, yaitu :
  • SE (Satzerganzung), terutama mengukur segi kemampuan pembuatan keputusan, penggunaan akal sehat, suatu penilaian yang mendekati realitas atau pemaknaan realitas. Penggunaan sub tes ini diharapkan dapat terungkap kemampuan berpikir secara mandiri.
  • WA (Wortauswahl), terutama mengukur daya berpikir verbal yang integratif, memahami visi dari suatu pengertian melalui kemampuan berempati/menghayati suatu masalah yang diformulakan dalam bentuk bahasa.
  • AN (Analogien), mengukur kemampuan fleksibilitas/kelincahan berpikir, kemampuan mengkombinasikan pengetahuan, pemahaman dan kedalaman dalam berpikir, ketetapan berpikir/tidak mengira-ngira. Tes ini penting bagi pengembangan ilmiah.
  • GE (Gemeinsamkeiten), mengukur kemampuan abstraksi yaitu kemampuan dalam membuat pengertian dan menyatakan kembali dalam bentuk bahasa verbal dan berpikir logis dalam bahasa.
  • ME (Merk Aufgaben), mengukur kemampuan atensi atau perhatian, daya ingat atau kemampuan menyimpan kata-kata yang telah dipelajari atau dihafalkan.
  • RA (Rachen Reihen), mengukur kemampuan berpikir induktif praktis atau daya berpikir raktis dalam hitungan.
  • ZR (Zahlen Reihan), mengukur kemampuan berpikir teoritis dalam menggunakan bilangan-bilangan atau hitungan, berpikir matematis, daya nalar dan komponen-komponen yang beraturan.
  • FA (Form Auswahl), mengukur kemampuan membayangkan, kemampuan alam pembayangan, daya mengamati dan memikirkan secara menyeluruh utuh atau analisa-sintesa. 
  • WU (Wurfel Aufgaben), mengukur kemampuan daya bayang ruang atau tiga dimensi, komponen kontruksi-teknis.
Adapun tingkat kecerdasan dan jenjang pendidikan setelah SLTA dapat dilihat sebagai berikut :

Tabel Penggolongan tingkat kecerdasan seseorang
No.
Nilai IQ
Keterangan
Jenjang Pendidikan
1
‘> 130
Very Superior
Strata 3 (S3)
2
120 – 129
Superior
Strata 2 (S2)
3
110 – 119
Diatas rata-rata
Strata 1 (S1)
4
105 – 109
Rata-rata atas
Strata 1 (S1)
5
95 – 104
Rata-rata
Diploma
6
90 – 94
Rata-rata bawah
Kursus
7
80 – 89
Dibawah Rata-rata
Kursus
8
‘< 79
Borderline
Kursus
Sumber: Yayasan Tunas Harapan.

Pada umumnya perkembangan tes intelegensi berjalan melewati empat fase, diantaranya :
1.     Fase persiapan. Yaitu fase dimana para ahli sedang berusaha mendapatkan tes intelegensi. Fase ini berlangsung sampai tahun 1915.
2.     Fase naik. Yaitu dimana orang menggunakan tes intelegensi yang telah tersususn tanpa kritik.
3.     Fase mencari tes yang bebas dari pengaruh kebudayaan.
4.     Fase kritis. Yaitu fase yang mulai pada tahun 1950 sampai dengan sekarang.












BAB III

PENUTUP


III.1  Kesimpulan
Adapun yang dapat disimpulkan, yaitu :
     1.            Intelegensi merupakan kemampuan atau kecakapan intelektual yang berdaya guna dan berhasil guna untuk menghadapi atau bertindak / berbuat dalam suatu situasi atau dalam menyelesaikan suatu masalah atau tugas.
     2.            Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Intelegensi
a.     Pembawaan, ialah kemampuan / potensi yang dibawa sejak lahir. Kematangan, ialah kesiapan suatu fungsi atau potensi untuk dikembangkan.
b.     Pembentukan, ialah segala faktor luar yang akan mempengaruhi perkembangan intelegensi.
c.      Minat, ialah sikap senang terhadap sesuatu hal.
d.     Kebebasan, ialah kondisi psikologi yang dapat mempengaruhi sikap, performance / aktivitas seseorang dalam berbuat / mencapai tujuan dalam mewujudkan dirinya
     3.            IQ adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan IQ (Intelligence Quotient) yang hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan. Atau dengan kata lain, IQ menunjukkan ukuran atau taraf kemampuan intelegensi / kecerdasan seseorang yang ditentukan berdasarkan hasil tes intelegensi. Sedangkan intelegensi merupakan suatu konsep umum tentang kemampuan individu
     4.            Emosional Intelegensi adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan oranglain di sekitarnya. Dalam hal ini, emosi mengacu pada perasaan terhadap informasi akan suatu hubungan. Sedangkan, kecerdasan (intelijen) mengacu pada kapasitas untuk memberikan alasan yang valid akan suatu hubungan.
     5.            Spiritual Intelegensi adalah istilah yang digunakan oleh beberapa filsuf , psikolog , dan ahli teori perkembangan untuk menunjukkan kesejajaran spiritual dengan IQ (Intelligence Quotient ) dan EQ ( Emotional Quotient ). Danah Zohar menciptakan istilah "kecerdasan spiritual" dan memperkenalkan ide pada tahun 1997 dalam bukunya rewiring Otak Perusahaan.
     6.            Pengukuran Intelegensi pada tahun 1904, Alfred Binet dan Theodor Simon, 2 orang psikolog asal Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak yang kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes Binet-Simon.
III.2  Saran
Dengan makalah ini diharapkan kepada pembaca agar dapat memahami Intelegensi, Emosional Intelegensi, Spiritual Intelegensi dan Pengukuran Intelegensi.




DAFTAR PUSTAKA

Fauzi, Ahmad. 1997. Psikologi Umum. Bandung: CV Pustaka Setia
Sabri, M Alisuf. 2001. Pengantar Psikologi Umum dan Perkembangan. Jakarta: CV Pedoman Ilmu Jaya.
Suryabrata, Sumadi. 2005. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.
http://www.google.com. Pengukuran Intelegensi.

 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar